Oleh: Maman El Hakiem

Persahabatan sejati itu harus karena Allah, jika tidak maka mudah untuk kecewa. Bagi Malika, Atilah, Naila dan Najma mereka harus bisa bertahan di jalan dakwah, meskipun banyak aral melintang. Dunia literasi yang membuatnya sering berperang opini di media sosial, kadang disambut cibiran para pendengung kebatilan, group Imel cs.

“Udah Naila jangan terlalu ditanggapi cuitan si Imel itu, dia itu buzzer karbitan, nanti juga kempes sendiri.” Ucap Atilah menanggapi kekesalan Naila yang akun medsosnya lagi-lagi diblokir.

“Gara-gara nanggapi cuitan si Imel di twitter, akun kripik kita jadi kena sasaran, gimana gak mangkel mereka main curang kan?” Jawab Naila yang masih saja geram.

“Kalau gak curang bukan buzzer namanya, mereka itu robot yang habis batere baru bisa diam…hehe.” Celetuk Najma, ikut nimbrung kongkow di kantin Rendang BuDatuk siang itu. Kebiasaan mereka di luar jam kuliah, apalagi saatnya makan siang selalu ngobrol politik di kantin Rendang dekat kampusnya tersebut.

“Eh Naj, kebenaran nih, tadi pagi macan kampus kita, Haidar kayaknya naksir kamu tuh? Dia nitip salam gitu…ciee.” Atilah mengalihkan topik pembicaraan.

“Apaan sih, kita nyeritain perang dunia maya atau perang dunia nyata nih?” Jawab Najma sambil agak malu-malu gitu. Dia memang teman yang paling pemalu, bahkan kalau udah urusan ikhwan suka menghindar.

“Malu-malu atau mau nih? Kan normal saja, asal bisa jaga pergaulan, bisa jaga jarak, kalau bisa pake masker dan hindari berkerumun, apalagi yang bukan mahram.” Kata Atilah malah ngomporin gosipnya, namun bikin senyum semua orang.

“Duilee…pesan prokes nih…hehe.” Sambut Malika, yang gak kuat ingin ketawa.

“Ih malah nambah parah, biar saja dia punya rasa, yang penting saya gak ada feel apapun, karena yang utama misi kripik kita harus trending topik di jagad maya.” Kata Najma menanggapinya adem ayem.

Persahabatan mereka memang begitu kuat karena dilandasi hobi literasi yang sama dengan akar akidah Islam sebagai landasan pemikirannya.

“Bener tuh Atilah, kita harus menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan, biarlah jodoh menemukan jalannya…sok puitis ya..” Ucap Malika yang memang selalu berposisi menengahi jika ada gosip baru. “Tuh, rendangnya sudah siap, giliran aku yang bayarin ya?” Malika lalu membantu pelayan kantin menyodorkan empat porsi nasi rendang .

“Iya dong, giliran bos Malika traktir kita….” Jawab Atilah penuh semangat, maklum perut sudah nagih banget, apalagi mencium aroma rendang yang begitu sedap.

“Alhamdulillah ada rezeki, honor tulisan yang dimuat di koran lumayanlah.” Pungkas Malika.***