Oleh: Maman El Hakiem

Ada sepasang mata yang menatap tajam. Naila begitu gusar hatinya. Ia terpaksa berjalan sendiri, trotoar ibu kota membuatnya merasa gak nyaman. Ia pulang dari kampus gak seperti biasannya, tidak bareng Atilah, Malika atau Najma. Mereka tidak masuk kampus, karena ada tugas lain.

“Hai Dik, jalan sendirian aja nih?” Goda seorang laki-laki yang berpapasan dengannya.

Lelaki itu tampangnya preman, tampak dari penampilannya yang urakan. “Wah, ada masalah nih, lagian jalan gang ini sepi banget, aku mulai rasa takut juga.” Pikiran Naila berkecamuk, terlebih kelihatan laki-laki itu kayak punya niat jahat.

“Loh kok…diam, jalan gang ini ada setannya, saya antar pulang ya?” Preman sengaja mencari perhatian Naila. Tentu saja Naila semakin merasa takut, ia ingin berlari, tetapi tangan preman tersebut sudah mulai kurang sopan, mencoba menarik-narik tangan Naila.

“Ih…siapa sih kamu, aku teriak nih…to..loooonng.!” Naila mencoba berteriak, dan mendorong lelaki yang seakan ingin berbuat jahat. Namun, lelaki itu matanya semakin tajam menatap tubuh Naila, meskipun berkerudung tetapi masih belum mengenakan jilbab. Hanya pakaian potongan biasa dan celana panjang, masih menampakan lekuk tubuhnya.

“Jangan kurang ajar ya…!” Naila mulai membentak, tangannya meronta dan kakinya menendang perut lelaki yang memang preman setempat. “Dugh…Bukk….” Kekuatan Naila mampu menjungkalkan lelaki itu. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan Naila untuk lari sekencang kencangnya.

Setelah berlari cukup jauh, Naila menoleh ke belakang barangkali premannya masih mengejar, ia baru sadar telah lari belasan kilometer. Padahal, jangankan belasan kilometer, dua kilo meter saja sudah kecapean. Inilah faktor orang yang dalam keadaan genting, bisa melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Sambil menghela nafas, Naila tampak kaget karena ada yang teriak memanggil-manggil namanya.

“Naila bangun…sudah adzan subuh!” Suara itu datang dari sampingnya. “Tidur kok mengigau kayak orang dikejar setan saja.” Ibu Nur membangunkan Naila, karena gak biasannya anaknya tersebut bangun kesiangan.

“Astaghfirullah…Mah, aku mimpi buruk ya?” Tanya Naila agak kaget.

“Pasti sebelum tidur lupa berdoa ya? Hmm…ini novel apa yang tergeletak di bantalmu?” Tanya Ibu Nur sambil mengambil buku yang hampir jatuh dari atas ranjang.

“Oh itu Mah, sebelum tidur aku baca novel baru tentang pergaulan jaman now bacanya sampai ketiduran.” Jawab Naila, tampak dirinya merasa malu.

“Pantesan, kalau sebelum tidur itu baca doa atau buku-buku yang lebih bermanfaat, dah cepat bangun, segera istighfar dan ambil air wudlu ya!” Bu Nur menasihati anak gadisnya tersebut.

“Baik Mah, janji gak akan baca novel seperti itu lagi, dan hikmahnya mungkin Naila harus segera berjilbab syari agar terhindar dari tatapan tajam orang-orang jahat.” Jawab Naila.

Kemudian Naila bergegas mengambil air wudlu. Sejak mimpi buruk itu, penampilan Naila lebih syari karena menganggap itu sebagai teguran atas kelalaiannya yang belum berjilbab secara syari. Jilbab bukan sekedar kerudung, melainkan pakaian longgar atau kurung yang tidak menampakan lekuk tubuh. ***