Oleh: Ummu Fatihah
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Literasi

Dilansir dari Bisnis.com (09/02/2021), Bupati Bandung mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada jajaran PDAM Tirta Raharja karena mampu memiliki jumlah pelanggan di atas 100.000 tepatnya 105.000 dan mampu menempati peringkat kedua nasional dengan kategori pelanggan terbanyak dibawah kabupaten Tangerang.

Kebutuhan akan air bersih merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi semua rakyat. Kebutuhan ini bisa terpenuhi jika pengelolaan air dilakukan oleh negara dan diberikan kepada rakyat secara cuma-cuma. Sehingga setiap warga bisa menggunakan air bersih agar kesehatan mereka terjaga dan terhindar dari berbagai penyakit. Namun pada faktanya, tidak semua warga bisa dengan mudah mendapatkan pasokan air bersih. Karena air bersih bisa didapatkan jika ada uang untuk melakukan pembayaran setiap bulannya.

Kapitalisme dengan asas kebebasan memiliki telah melegalkan kepada siapapun yang bermodal agar bisa menguasai sumber daya alam. Seperti sumber daya alam berupa air yang dikuasai oleh PDAM, sumber daya energi panas berupa gas dan bensin yang dikuasai oleh Pertamina dan energi listrik oleh PLN.

Hal ini menyebabkan sumber daya alam yang seharusnya dikelola oleh negara beralih diprivatisasi oleh swasta. Pendistribusian mereka lakukan untuk mendapatkan keuntungan bukan untuk mensejahterakan rakyat. Kendati ada subsidi yang diberikan oleh negara, itu hanya diberlakukan untuk rakyat miskin. Padahal yang memerlukan air, bensin, gas dan listrik bukan orang miskin saja, melainkan setiap manusia. Baik yang kaya maupun miskin.

Demokrasi telah melegalkan liberalisasi sumber daya alam. Akibatnya, hubungan negara dan rakyat ibarat pedagang dan pembeli. Akibat Liberalisasi air, rakyat yang ingin mendapatkan air bersih harus memiliki uang untuk membeli air. Mereka yang tidak memiliki uang untuk membeli air, harus rela bersabar dengan keterbatasan air bersih dan mengkonsumsi air kotor ala kadarnya.

Di beberapa wilayah Indonesia, rakyat masih mengkonsumsi air kotor dan mengalami krisis air. Seperti yang terjadi di daerah Kabupaten Nagekeo, pulau Flores di musim kemarau. Kepala Desa Reduwawo Teodorus Aru mengatakan bahwa persediaan air di bak penampung air hujan milik warga telah kosong sejak Agustus lalu. Mereka juga tidak mampu membeli air karena satu tangki kapasaitas 5 ribu liter membutuhkan biaya sebesar Rp400 ribu. Warga hanya berharap pada air dari embung kotor yang telah dangkal.
(mediaindonesia.com, 11/12/2019).

Pendistribusian Air dalam sistem Islam

Islam adalah agama Yang “syamil” (meliputi segala sesuatu) dan “kamil” (sempurna). Islam tidak hanya mengatur aspek spiritual, tapi juga seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.,

“Kami telah menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. an-Nahl [16]: 89).

Islam memiliki aturan terkait sumber daya alam, termasuk pengelolaan dan pendistribusian air. Air adalah sumber daya alam yang bersifat umum dan harus dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyatnya.

Maka, air haram diprivatisasi dan dikuasai oleh individu ataupun kelompok. Rasulullah saw bersabda,

“Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api.” (HR. Ibnu Majah).

Rasul saw. juga bersabda,

“Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api.” (HR. Ibnu Majah).

Di masa Rasulullah, Abyadh bin Hammal pernah meminta agar diizinkan mengelola tambang garam. Telah diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari perkataan Abyadh bin Hammal. Hadis itu menceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam agar ia dapat mengelola sebuah tambang garam.

Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam mengabulkan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasul saw kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR. at-Tirmidzi).


Awalnya, Rasullullah memberikan akan tetapi ketika sudah diketahui hasil pengelolaan tambang garam itu hasilnya besar dan merlimpah seperti air yang yang terus mengalir maka nabi shalallahu alaihi wassalam mengambil kembali pemberian itu.
Berdasarkan hadis di atas, maka semua sumber daya alam bersifat umum dan tidak bisa dikuasai oleh sekelompok orang apalagi diberikan kepada pihak asing.

Selain itu, dimasa Rasulullah pernah terjadi kekeringan yang melanda kota Madinah. Pada saat itu hanya ada beberapa sumur yang mengandung air. Salah satunya sumur milik orang yahudi. Maka, ketika kaum muslimin akan mengambil air dari sumur milik yahudi, mereka harus membayar dan membeli air tersebut. Hal itu diketahui oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meghimbau kepada para sahabat agar memaklumkan harapannya membeli sumur dari yahudi guna membantu kaum muslimin. Setelah menerima kabar ini, Utsman bin Affan mendatangi orang yahudi agar dia mau menjual sumurnya kepada Utsman. Kemudian yahudi pun bersedia menjualnya. Tapi dengan harga yang sangat mahal, 12 ribu dirham. Selain itu, ada syarat yang diberikan yahudi kepada Utsman. Sumur itu dibagi dua : satu hari oleh yahudi satu hari oleh Utsman.

Betapa gembira hati kaum muslimin setelah mendengar kabar bahwa Ustman membeli sumur tersebut dan rela memberikannya secara gratis agar bisa digunakan mereka tanpa harus membayar.

Pada hari giliran sumur itu menjadi bagian Utsman, kaum muslim mengambil banyak air agar di hari kedua tidak perlu membeli air dari yahudi. Pada hari giliran sumur menjadi bagian yahudi, tidak ada lagi kaum muslim yang membeli air kepadanya. Akhirnya orang yahudi itu bangkrut dan menjual separuh hak sumur miliknya kepada Utsman.

Kisah di atas menjadi hikmah (pelajaran) bagi kita, betapa Islam ampuh dalam memecahkan problematika umat. Islam mengelola sumber daya air agar mampu mencukupi kebutuhan rakyat secara cuma-cuma. Rakyat mudah mengakses kebutuhan air bersih dan terjaga kesehatannya. Ini menjadi mafhum karena dalam pandangan Islam, negara wajib memberikan sumber daya alam (air) untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Hal ini bisa terwujud jika sistem Islam diterapkan dalam lingkup negara bukan sebatas lingkup aspek spiritual semata.

Wallahu a’lam bishawwab.