Oleh: Aning Ummu Hanina

Beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh salah satu wedding organizer yang mempromosikan pernikahan dini. Nama Aisha Wedding seketika viral lantaran menuai banyak kritikan, setelah terang-terangan melakukan kampanye pernikahan dini di websitenya.

“Semua wanita muslim ingin bertakwa dan taat kepada Allah Swt. dan suaminya. Untuk berkenan di mata Allah dan suami, Anda harus menikah pada usia 12-21 tahun dan tidak lebih,” begitu bunyi keterangan websitenya.

Dilansir dari Merdeka.com, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mencegah pernikahan dini. Bintang yakin, dengan adanya dukungan penuh dari masyarakat dan kementerian lainnya, maka permasalahan perempuan dan anak, termasuk pernikahan dini bisa ditekan jumlahnya.

“Tindakan ini melawan hukum, melangggar Undang-Undang Perlindungan Anak, UU Perkawinan Anak dan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang,” kata Bintang.

Bintang juga menambahkan bahwa ia sudah koordinasi dengan kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dan meminta Kemenkominfo untuk memblokir website atau akun Aisha Wedding. (Merdeka.com, 11/2/2021)

Larangan dan penutupan akun medsos akun Aisha Wedding yang mengkampanyekan pernikahan usia dini dinilai masyarakat sebagai tindakan yang tepat. Alasannya untuk menjaga kesehatan produksi.

Pernikahan usia dini dalam masyarakat sekuler memang akan menyebabkan berbagai polemik seperti kekerasan seksual, tingginya angka perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena pernikahan dibangun dari cara pandang kapitalistik. Yaitu hubungan antara pria dan wanita dipandang sebatas hubungan seksualitas tanpa ada aturan agama yang melandasi dan mengatur di dalamnya.

Berbeda dengan Cara Pandang Islam.

Dalam Islam, pernikahan bukan masalah usia, melainkan persiapan untuk memikul tanggung jawab dalam pernikahan. Tanggung jawab pasangan akan hak dan kewajibannya sebagai suami dan istri, ayah dan ibu dalam kehidupan rumah tangga, untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Dalam sistem Islam, negara akan memberikan edukasi untuk generasi agar siap menjalankan hak dan kewajiban sebagai suami dan istri, ayah dan ibu ketika kelak sudah menikah. Edukasi tidak hanya diberikan kepada generasi secara singkat dalam waktu beberapa hari saja, tetapi diberikan sepanjang masa sejak mereka pra baligh hingga berumahtangga.

Negara juga melakukan edukasi seumur hidup bagi pasangan suami istri, agar harapan keluarga “samawa” (sakinah mawaddah warahmah) terwujud.

Wallahu a’lam bishawwab.