Oleh: Yuyun Rumiwati

Kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian secara fitrah dambaan tiap insan. Terlebih seorang mukmin. Namun, kita lihat hari demi hari fakta di tengah masyarakat. Kondisi umat di negeri mayoritas muslim ini sungguh menyedihkan.

Masalah demi masalah seakan tak berkurang, Namun, kian meradang. Kehormatan umat dan Islam begitu mudah direndahakan oleh orang-orang bodoh.

Tengok saja, saat ada celah dan salah umat Islam, terlebih jika pelakunya ada tanda ketaatan, misal. Berkerudung. Hujatan dan celaan pun datang. Bahkan, tak ayal lagi kerudung dan jilbab sebagai salah satu ajaran Islam jadi sasaran hujatan. Misalnya, ada ucapan, “percuma jilbaban jika g’ hatinya tidak jillbabi”. Dan berbagai cibiran dan penggakiman yang menyayat hati.

Namun, berbeda perlakuan, saat pelaku kesalahan adalah orang sekuler “tidak menampakkan identitas Islam. Mereka aman-aman saja tanpa sanksi sosial. Akhirnya pertanyaan besar ada apa dengan umat muslim?? Kapan gambaran Khoiru Ummah (umat terbaik) akan kembali?

Jika kita cermati dengan dalam. Serangkaian permasalahan yang menimpa umat saat ini adalah saat Islam tidak ada sistem (negara) yang menerapkan Islam secara utuh. Akhirnya Marwah (kehormatan) umat pun tak terjaga.

Inilah kebenaran kabar Rasullullah yang bersabda, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Lalu seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi SAW bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian” (HR. Abu Dawud)”.

Semoga kejadian demi kejadian membuat kita semua kian sadar bahwa kebutuhan kita hanya satu Ridha Allah. Dan Ridha Allah hanya akan terwujud saat kita tunduk atas tiap aturan Secara Kaffah. Bukan pilah pilih. Terlebih urgensitas aturan dalam kenegaraan. Bukankah Imam Ghazali pernah menyampaikan, “negara dan agama laksana saudara kembar”. Kedua saling meniatkan dan membutuhkan. Negara sebagai penjaga agama, agama sebagi pengokoh tegaknya negara.

Jika keduanya telah dipisahkan maka satu persatu dari kekuatan, kehormatan, kemulyaan umat pun lepas. Hingga seperti saat inilah dampak yang bisa kita lihat.

Oleh karena itu, tiada pilihan untuk mengembalikan kehormatan, keberkahan dan kemulyaan umat selain kembali kepada penerapan syariat kaffah dalam naungan sistem khilafah ala min hajji Nubuwah.

Kondisi ini telah terbukti saat Islam berjaya selam 13 Abad. Marwah dan kehormatan umat Islam bahkan manusia terjamin. Keberkahan dari turun dari langit dan terpancar dari bumi. Islam sebagai agama membawa Rahmad bagi seluruh alam benar-benar terwujud dal kehidupan.

Islam dan umat Islam disegani musuh-musuhnya. Penguasa muslim (Khalifah) dicintai rakyatnya, meski mereka non muslim pun. Kecuali orang-orang munafiq yang dihatinya ada penyakit yang tidak akan pernah senang dengan kesuksesan umat Islam. Karena ketundukan mereka karena takut saat Islam berkuasa. Allahu a’lam bi shawab.