Oleh: Ummu Syathir

~~Langit yang seakan mengerti isi hati. Berselimut warna abu kehitaman, siap menumpahkan asa yang terbendung paksa.

Namun, angin tak sama. Dia menyapa dan memeluk erat rasa. Seakan berkata, kita akan baik-baik saja. Seperti layang-layang, siap terbang tanpa menimbang langit yang muram. ~~


“Bu, lihat layang-layang, gak?” Teriak seorang anak berperawakan kurus dari jauh.

“Tuh.” Jawabku dengan menunjuk pohon besar. yang menjulang. Di bagian ujung rantingnya terjebak satu layang-layang yang tadi dia ditanyakan.

Si anak itu lari mendekat. Tangannya mengambil sebilah bambu yang tersandar di pohon kecil di dekatku.

“Tar simpen lagi bambunya di situ!” Seruku. Anak itu hanya menjawab dengan tatapan.

Tak lama beberapa anak menghampiri. Ada tiga orang. Mereka sama-sama pengejar layang-layang.

Setelah mendekat, mereka seperti keheranan.

“Ibu lagi ngapain?” Celetuk salah satu dari mereka.

“Kangen.” Aku menoleh pada anak yang tadi bertanya.

“Anaknya? Covid, ya?”

‘Engga, Covid yang ujung, tuh, jauh!” protesku

“Kenapa, sakit?” tanya mereka lagi, sambil lebih mendekat. Sepertinya mereka mulai berempati.

“Panas, dikit.” lanjutku dengan menahan nafas dan mata yang mulai berkabut.

“Owh, panas dikit.”

“Kamu umurnya berapa?” Pertanyaan itu muncul, begitu saja. Mungkin pelepas rindu.

Satu persatu anak itu pun menyebutkan umurnya.

“Kamu, sama, tuh, tujuh tahun. Sama. Umur anak saya, tujuh tahu. Kelas dua?” Tunjukku pada satu orang anak yang sedari tadi duduk di sampingku. Dia menganggukan kepala. Perawakan dan tingginya juga sama. Tak kurus, tak gemuk. Tapi lincah. Berani.

“Eh, kamu saudaranya Yusuf, ya?” Sengaja kutanya pada anak yang tadi mengambil bambu. Supaya bisa lebih akrab dan bisa belama-lama ngobrol dengan mereka.

“Kok, tau? Iya, saya saudaranya.” Anak yang ditanya sepertinya senang. Dia tersenyum bangga pada teman-temannya.

“Anak ibu, yang suka ke masjid, ya? Tanya anak yang baru tadi menjawabku.

“Iya, bener. Nih, yang ini!” Satu vidio berisi hafalan, kuputar dari hp yang kugenggam.

“Tuh, bener. Iya, bener. Anak itu. Sering ke masjid, kan? Rumahnya di bawah, kan? Yang banyak kucingnya?” Serunya semringah.

“Ih, kok, bacaannya …” Celetuk temannya yang menyimak vidio yang sedang berputar.

“Al-Lail” Jawabku tanpa ditanya.

“Owh.”

Layang-layang tiba-tiba melambai. Tak lama mereka berlari melompati bangunan-bangunan datar yang menunggu hari kebangkitan.