(Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al Baqarah: 208)

Seluruh masyarakat Indonesia diajak untuk mencegah pernikahan dini oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Beliau yakin, jika ada dukungan penuh dari masyarakat dan kementerian lainnya, permasalahan perempuan dan anak termasuk pernikahan dini bisa ditekan jumlahnya. Hal ini sebagai sikap ramainya di media sosial terkait wedding organizer bernama Aisha Wedding yang mempromosikan pernikahan dini (Merdeka.com, 11/02/21).

Telah ditandatangani Rencana Aksi Program Kerja Sama atau Country Programme Action Plan (CPAP) 2021-2025 senilai USD 27,5 juta oleh Pemerintah Indonesia bersama United Nations Population Fund (UNFPA). Hal ini dilakukan untuk memastikan akses universal terhadap informasi dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi (kespro), terutama untuk perempuan dan anak. Kementerian PPN/Bappenas sebagai koordinator pelaksana, akan menjabarkan CPAP 2021-2025 menjadi rencana program tahunan (Bapennas.go.id, 29/1/21).

Program tersebut akan dilaksanakan kementerian/Lembaga, termasuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Kesehatan, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Kementerian Dalam Negeri, dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Pernikahan Dini vs Free Sex Usia Dini

Pernikahan dini seakan menjadi polemik, seolah-olah satu-satunya sumber masalah kekerasan anak dan semisalnya. Menteri PPPA pun sampai mengajak masyarakat untuk mencegah pernikahan dini. Bahkan, ada sebuah program yang telah ditandatangani pemerintah Indonesia bekerja sama dengan UNFPA. Dana yang digelontorkan pun tak sedikit, jika 1 dollar saat ini 14.000 maka USD 27,5 juta dirupiahkan senilai 385 milyar. Angka yang sangat fantastis, di balik program layanan kesehatan seksual dan reproduksi (kespro).

Tak tanggung-tanggung, kerja sama ini selama 2021-2025. Artinya lima tahun ke depan, pemerintah dengan UNFPA akan melaksanakan program ini yang diturunkan ke setiap lembaga. Di antaranya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Kesehatan, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Kementerian Dalam Negeri, dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Mengapa begitu besar dana yang digelontorkan untuk program ini? Betulkah kesimpulan bahwa satu-satunya solusi yang harus dilakukan adalah mencegah dan melarang pernikahan dini. Kiranya perlu ditelaah kembali secara mendalam, sebenarnya apa penyebab kekerasan dalam rumah tangga dan terhadap anak marak terjadi. Sehingga tak salah kaprah dalam mengambil solusi yang harus dilakukan.

Secara fakta, kekerasan anak marak terjadi akhir-akhir ini. Ketika sistem yang diterapkan bukan dari Sang Pencipta manusia. Maka dalam permikahan bukan berpedoman pada aturan wahyu dari Allah, tak heran banyak terjadi pelanggaran dan kesalahan. Bagi yang berusaha berpedoman pada wahyu saja masih memungkinkan melakukan kesalahan, apalagi yang tak bersandar pada wahyu.

Menikah pada umumnya hanya berlandaskan cinta, tak sedikit orang yang berpacaran lama namun setelah menikah tak bertahan lama alias cepat bercerai. Bahkan, ada yang terpaksa menikah di usia dini karena ‘kecelakaan’ (MBA). Ada juga yang hamil duluan tapi tak siap menikah, melakukan aborsi. Bahkan free sex dan aborsi sudah menjadi fenomena gunung es, tiap tahun 2 juta jiwa korban aborsi di Indonesia yang mayoritas muslim (Media Indonesia, 20/8/20).

Fenomena yang menarik, pernikahan dini dipersoalkan sementara free sex di usia dini seakan tak diperhatikan. Padahal, kasus aborsi banyak dan hal ini bisa merusak reproduksi generasi muda di samping janin tak bersalah menjadi korban. Free sex usia dini seperti hal biasa saat ini, usia yang seharusnya mereka isi dengan fokus menimba ilmu, berkarya, berdakwah di tengah-tengah umat. Namun, kenyataannya generasi muda terjebak dengan kemaksiatan yang membuat mereka ketagihan.

Ini merusak generasi muda, seharusnya pemerintah pun mencari cara agar mereka terjaga dengan baik pergaulannya. Difasilitasi belajar agar menjadi SDM yang berkualitas dan dibanggakan di negeri ini, memberi manfaat untuk umat. Namun sayang, pergaulan bebas yang memiliki dampak besar hanya menjadi tanggung jawab para orang tua yang bisa mengontrol di rumah saja.

Pergaulan dan Pernikahan dalam Islam

Dalam Islam, pergaulan diatur dengan sempurna antara laki-laki dan perempuan. Dalam kehidupan umum mereka terpisah, berinteraksi yang diperbolehkan oleh syariah. Yaitu, bidang pendidikan, muamalah dan kedokteran. Maka sudah ada preventif untuk mengatasi masalah pergaulan bebas. Jika sudah siap menikah, yang perlu diperhatikan bahwa kesiapan bukan hanya dari sisi usia saja tapi matang secara mental, lahir dan bathin karena menikah adalah ibadah terlama dalam hidup.

Ilmu tentang menikah harus dipelajari, menikah untuk ibadah dan melestarikan keturunan. Suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing, jika ini dijalankan dengan baik maka tidak akan terjadi kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan anak dalam sebuah pernikahan. Marak terjadi kekerasan anak dan rumah tangga, karena terbawa dengan arus kapitalisme dan liberalisme saat ini.

Hubungan suami dan istri bukan sahabat, tapi terkadang seperti majikan dan bawahan bahkan ada pula seperti persaingan. Maka wajar jika tidak harmonis, karena suasana yang dirasakan bukan ibadah semata karena Allah. Terkadang masing-masing sibuk dengan urusannya, pulang ke rumah waktu sisa dan tenaga sisa. Jarang ada waktu untuk ngobrol bersama agar keharmonisan bisa terwujud. Mau di bawa ke mana rumah tangga jika kondisinya seperti ini?

Jadi, akar masalah kekerasan dan semisalnya karena pemahaman masyarakat tentang pernikahan belum sesuai dengan aturan Islam. Ditambah sistem yang diterapkan saat ini tidak memberikan pemahaman yang baik tentang pernikahan. Sekulerisme yang menjadi asas kapitalisme menjadikan agama hanya sekadar ibadah mahdhah saja, di luar itu agama tak ikut campur. Akibatnya, aktifitas termasuk pernikahan tanpa bimbingan agama menjadi rusak.

Sejatinya, sebagai hamba tentu harus patuh pada Sang Khalik yang telah menciptakan semuanya. Agar semua berjalan sesuai sunnatullah dan tidak terjadi kerusakan. Sebagai Pencipta, Allah sudah membuat aturan yang sempurna bagi ciptaan-Nya. Butuh segera diterapkan aturan dari Allah agar rahmat bagi seluruh alam terwujud (QS. Al Anbiya: 107).

Allahu A’lam bi Ash Shawab.