Oleh Mahrita Julia Hapsari
(Praktisi Pendidikan)

Coba buka YouTube dan ketik “video tiktok viral Banjarmasin”. Apa yang anda dapatkan? Sesuatu yang membanggakan atau mengkhawatirkan? Siapa aktor dan aktris di video pendek tersebut? Remaja bukan?

Yang terbaru, video perundungan satu orang remaja putri oleh tiga temannya di kamar hotel. Mirisnya, ketiga ABG pelaku perundungan diduga terlibat prostitusi online (jpnn.com, 02/02/2021).

Setahun yang lalu, video tiktok remaja 14 tahun dengan latar belakang adegan mesum. Enam remaja diamankan untuk dimintai keterangan, salah satu remaja terduga kuat berprofesi sebagai PSK online (kanalkalimantan.com, 20/02/2020).

Kehidupan yang sekuler, memisahkan antara agama dan kehidupan menjadi akidah. Agama dianggap wilayah privasi, tanpa perlu ada yang tau, sehingga agama hanya ditinggal di atas sajadah dan di atas KTP. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, berbuat sesuka hati demi mencapai kebahagiaan semu. Dipikirnya eksistensi adalah penentu kebahagiaan hidupnya.

Di sisi lain, masyarakat sudah terjangkiti penyakit individualis. Tak mau peduli dan ikut campur urusan orang lain. Meskipun kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain tadi, termasuk remaja. Bisa cuek saja melihat sepasang remaja berciuman di pinggir jalan. Tak ambil pusing ketika melihat kos-kosan laki-laki tapi ada perempuan juga di dalamnya.

Sudahlah akidahnya sekuler dan masyarakatnya individualis, ditambah lagi sistem regulasi negara yang tidak mencetak remaja unggul. Sistem pendidikan sekuler. Terbaru, SKB tiga menteri mencabut aturan sekolah yang mewajibkan menutup aurat.

Diijinkannya aplikasi, film, game, hingga konten-konten yang merusak akal remaja. Tak ada sanksi tegas jika remaja melakukan kemaksiatan seperti berzina, karena dianggap masih di bawah umur alias anak-anak.

Solusi Sistemik Masalah Remaja

Perlu solusi yang sistemik untuk menyelesaikan masalah yang lahir dari penerapan sistem kapitalisme sekularisme. Tak mungkin mengambil sosialis-komunis yang tak bertuhan sebagai solusi. Satu-satunya sistem yang mampu mencerahkan kembali potret generasi hanyalah sistem Islam.

Ada tiga pilar yang akan di bangun untuk mewujudkan generasi unggul. Pertama, ketakwaan individu. Akidah Islam mewajibkan setiap individu beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Konsekuensinya menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebab akan ada hari akhirat sebagai pertanggungjawaban atas amal perbuatan selama di dunia. Jadi, standarnya bukan lagi eksistensi diri namun keridhoan Allah.

Kedua, kontrol masyarakat. Keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat. Dalam islam, seorang ayah wajib menjaga dirinya dan keluarganya dari siksa api neraka. Maka, ia wajib mendidik serta mengontrol istri dan anak agar senantiasa berada di jalan takwa. Masyarakat islam melaksanakan amar makruf nahi mungkar untuk menjaga anggota masyarakat dari kemaksiatan.

Ketiga, adanya sistem yang menjamin ketaatan individu dan masyarakat. Sistem pendidikan Islam bertujuan menjadikan peserta didik memiliki kepribadian islam, memahami ilmu dan tsaqofah Islam, serta menguasai sains dan tekonologi.

Untuk mencapai tujuan pendidikan, negara akan memback-up penuh biaya penyelenggaraan pendidikan lengkap dengan kurikulumnya. Negara juga akan mengadakan para pengajar yang berkualitas. Segala hal yang dapat merusak akal dan konsentrasi para pembelajar akan disingkirkan. Akan ada beasiswa dan reward bagi pelajar yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan berkarya untuk umat.

Wajar jika terlahir generasi unggul seperti para imam mazhab dan para ilmuwan islam. Bahkan Barat pun ikut belajar di universitas Islam pada masa Kekhilafahan Abbasiyah.

Saat ini, bukan hal yang mustahil untuk kita mewujudkan kembali sistem islam kaffah. Cukuplah bisyarah Rasulullah Saw menjadi motivasi terbesar kita dalam perjuangan mewujudkan sistem yang mampu melahirkan generasi cemerlang. Wallahu a’lam []