Oleh: Ummu Habil (Anak Minang)

“Supiak, Amak pergi dulu ke tempat Uwai Minah yo!”, Ucap Amak Ku dengan tergesa-gesa. “Amak mau ngapain?”, Balas Ku.

Tetapi Amak sudah begitu cepat pergi meninggalkan Ku, yang saat itu Aku sedang menyapu halaman. Setelah beberes halaman rumah. Akupun meletakkan sapu dan “tajak”. Tajak adalah sebutan untuk cangkul di Ranah Minang. Kemudian Aku masuk rumah, ternyata Adikku yang bungsu, Julma lagi sakit. Leher nya kembali bengkak. Istilah medis nya disebut Kelenjar Getah Bening.

“Oh, mungkin amak tadi ingin “menawarkan obat” ke tempat Uwai Minah. Ucap Ku dalam hati.


Begitulah kebiasaan masyarakat di tempat tinggal kami yaitu Nagari Tanah Runtuah, Padang Pariaman. Setiap ada yang sakit, seperti demam, pingsan, kesurupan, bayi kejang-kejang dan lainnya. Maka alternatif pertama yang kerap dilakukan adalah mencari dedaunan di “Parak”, sekeliling rumah.

Dedaunan yang dimaksud adalah, daun “Sikumpai, Sitawa dan Sidingin”. Ketiga daun ini harus ada. Setelah itu dicarikan pula ayam kampung yang nantinya akan dilakukan pembedahan terhadap ayam.

Itulah daun tiga macam dan ayam yang dibawa Amak Ku ke tempat Uwai Minah. Adapun daun dan ayam ini nanti akan dibacakan “do’a” oleh Uwai Minah. Begitupun dengan ayam ini dibacakan hal serupa.

Setelah dibacakan “do’a” maka ayam inipun dipotong atau dilakukan “badah ayam”, sebutannya. Dari badah ayam ini nanti terlihat lah apa penyakit dari orang dituju.

Amakpun kembali pulang membawa daun dan ayam yang sudah di bedah tadi. “Buyuang, di leher ayam ini terlihat bulatan yang sudah membesar, dadanya hitam, sudah Amak larang merokok, Buyuang tak dengar”, sambil berderai air mata Amak mencoba menjelaskan hasil bedah ayamnya.

Aku hanya duduk dan mencoba berpikir keras. “gimana bisa ya, kok ayam bisa ngasi petunjuk, sakit nya ini dan itu,”. Ucap Ku dalam hati sambil menggerutu. Sempat Aku tanyakan ke Amak. “Mak, kok bisa ayam kasi tahu apa penyakitnya, emang diapain tuh ayamnya?”, Tanya Ku. Tetapi Amak kerap kali memberikan jawaban yang tidak memuaskan Ku. Misalnya, sudah dari sananya orang tua kita dulu. Udah warisan nenek moyang kita. Hati Ku selalu berkecamuk.

Pernah Aku sakit demam. Aku juga ditawarkan obat serupa dan badah ayam. Di suruh makan ayam nya yang sudah dimasak menjadi gulai. Juga memandikan air dari daun tiga macam tadi. Tanpa sepengetahuan Amak, air itu Aku buang dan mandi dengan air biasa. Ayam itupun tidak Ku makan, karena memang tidak selera. “Aku, yakin Allah SWT yang maha menyembuhkan, bukan hal semacam ini.” Hati Ku terus memberontak. Benar saja Akupun sembuh atas izin Allah SWT. Bukan perantara obat itu.


Kebiasaan setempat atau warisan nenek moyang itu tidak boleh menjadi tolak ukur perbuatan yang harus diikuti. Baik mengenai kepercayaan ataupun pengobatan. Karena bisa jadi apa yang dilakukan termasuk ke dalam perkara syirik. Berkaitan dengan pengobatan, Syirik berarti menganggap Allah SWT ada, tetapi tidak mempercayai Allah SWT yang Maha Menyembuhkan dan Maha Penolong. Anggapan mengenai “Kita berobat ke orang pandai, kan usaha, tapi saya percaya kok kepada Allah”. Sungguh ini adalah hal keliru. Inilah yang dimaksud dengan menduakan Dzat Maha Pencipta.

Tidak jauh berbeda dengan orang Jahiliyah terdahulu. Misalnya, orang kafir Quraisy, mereka percaya kepada Tuhan, tetapi tetap juga menyembah berhala. Sungguh inilah kebiasaan yang harus ditinggalkan. Tidak perlu melakukan pengobatan alternatif, yang menjadikan diri tidak percaya kepada Allah SWT. Mustahil percaya kepada Allah SWT, karena apabila benar sembuh dengan pengobatan Alternatif, akan menambah kepercayaan kepada “Si Tukang Pandai Obat”. Bisa dicek sendiri dan tanya hati sendiri. Sungguh Iblis itu bersekutu dengan “Si Pandai Obat”. Iblis mencuri berita dari langit. Kemudian menyampaikan dengan menambahkan berbagai kedustaan.

Oleh sebab itu, Islam telah mengajarkan kepada kita. Apabila sakit maka sikap yang pertama adalah bersabar. Sakit datang nya dari Allah SWT dan Allah SWT jugalah yang Maha Menyembuhkan. Sakit juga menggugurkan dosa dengan sikap sabar dan tawakal kepada Allah SWT. Jika sakit tidak kunjung sembuh, maka melakukan pengobatan secara medis yang jelas, bisa diterima oleh akal.

Wallahu a’lam Bisshowabb.
Penghujung Sore, 21 Februari 2021