Oleh: Maman El Hakiem

Syariat Islam merupakan hukum yang mengatur perbuatan manusia di dunia. Karena buatan Sang Pencipta kehidupan,maka syariat Islam bersifat sempurna dan menyeluruh, mengatur segala sendi kehidupan. Allah SWT membuat hukum bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan dirinya, juga menyangkut hubungan antar sesama manusia dan alam semesta. Dalam hal ini Rasulullah Saw. menjadi penyampai risalah Islam dan teladan dalam penerapan hukum-hukum Islam tersebut.

Kepribadian Rasulullah Saw. adalah cermin bagaimana syariat Islam diterapkan, mengikutinya berarti telah tunduk dengan aturan Allah SWT. Dengan kata lain kepribadian seorang Muslim adalah kepribadian yang terbentuk atas kesadarannya mematuhi hukum-hukum Allah. Menjadikan setiap aktifitas hidupnya selaras dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Bukan kepribadian yang temporal yang semata-mata mencari nilai kemaslahatan dari aturan buatan manusia yang serba kaku dan lemah karena berdasarkan hawa nafsu atas kepentingan yang sesaat.

Memiliki kepribadian Islami adalah cermin muslim yang tangguh dan menjadi nikmat terbesar dalam hidup. Karena Islam adalah dien atau agama yang memiliki “nidzam” atau sistem yang mampu memberikan solusi atas segala permasalahan kehidupan. Jalan lurus yang dapat memuaskan akal dan menenteramkan hati seorang hamba yang diamanahi kekuasaan untuk memakmurkan dunia (khalifatul fil ardl).

Untuk menjadi pribadi Muslim yang tangguh sudahkan syariat Islam diterapkan? Jangan-jangan kepribadian kita selama ini yang dikira sudah Islami, sebenarnya masih banyak diracuni oleh pemikiran sekularistik, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Kepribadian ganda yang membuat orang shalih dalam ritualitas, namun berbuat fasad atau batil dalam bermuamalah, bahkan dalam berpolitiknya masih mengekor pada hukum buatan manusia.

Hal yang sangat memprihatinkan saat ini, umat Islam dengan ketiadaan institusi negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, hampir satu abad lamanya masuk ke dalam jurang kehancuran peradaban. Kaum muslim di berbagai belahan dunia seperti anak ayam yang kehilangan induknya atau singa yang tertidur karena dininabobokan oleh pemahaman keliru tentang Islam yang sebatas ibadah ritual dan akhlak, itupun tidak mengambil dasar dari dalil dan fikrul Islam yang shahih. Banyaknya bid’ah yang sering dipermasalahkan bagi sebagian kelompok, sebenarnya akar masalahnya tidak diterapkan syariat Islam secara kaffah di tengah umat.

Untuk itu perlu dibangun kembali nilai kepribadian Muslim yang sejati, tidak lain dengan upaya merekontruksi kembali ajaran Islam secara menyeluruh melalui institusi kekuasaan, karena itulah yang akan menjaga tegaknya aturan Allah dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tentu, yang pertama harus ditanamkan di tengah umat adalah akidah Islam yang selamat dari kontaminasi kesyikiran hukum jahiliyah buatan manusia (salimul aqidah). “….Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS Az Zumar:2).

Setelah akidahnya bersih, kemudian menghadirkan nilai ibadah yang benar (shahihul ibadah). Artinya ibadahnya benar-benar ber-ittiba terhadap apa yang telah dicontohkan Rasulullah Saw, baik secara spritualitas dan ritualitasnya. Ibadah seorang Muslim harus dihadirkan tujuannya semata-mata karena mengharapkan ridlo Allah SWT dan sarana tercapainya maksud syariat dengan kehadiran pelayanan negara yang menjamin rasa aman dan nyaman dalam beribadah.

Penerapan syariat Islam juga akan berdampak pada lahirnya kepribadian Muslim yang memiliki pemikiran cemerang (al fikr al mustanir), artinya mampu membendung hadlarah atau pemahaman keliru tentang Islam yang datang dari Barat. Selalu bersemangat dalam berusaha atau memiliki etos kerja yang tinggi (mujahidu li nafsihi), efisien dalam memanfaatkan waktu (haritsun ala waqtihi), dan tentunya kepribadian mulia yang tangguh karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain (nafi’un lighairihi). Inilah nilai-nilai pribadi yang dapat terwujud jika sistem aturan kehidupannya adalah syariat Islam.

Wallahu’alam bish Shawwab.