Oleh : Dahlia Anggraini, ST

Pemerintah lagi-lagi mengeluarkan wacana kontroversial yaitu menjadikan dana wakaf sebagai salah satu sumber pendanaan untuk mendukung pembangunan nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut diutarakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani saat acara konferensi pers virtual ‘Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia’. (Republika.co.id, Sabtu, 24 Oktober 2020). Beliau mengatakan, “Potensi wakaf yang berasal dari 74 juta penduduk kelas menengah saja merupakan potensi yang besar, saya mengajak seluruh masyarakat untuk memulai melakukan gerakan wakaf, salah satunya melalui instrumen Surat Berharga Negara Syariah (SBSN) atau sukuk. Memuluskan wacana tersebut akhirnya Presiden Jokowi meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) di Istana Negara pada Senin, 25 Januari 2021. Beliau mengungkapkan pemanfaatan wakaf uang tak terbatas untuk tujuan ibadah, tetapi juga sosial dan ekonomi. (Kompas.com, Sabtu, 30 Januari 2021).

Namun memang wakaf tunai telah difatwakan kebolehannya oleh Komisi Fatwa MUI Pusat tanggal 11 Mei 2002 dan telah mendapat legalitas berdasarkan UU No 41/2004 tentang Wakaf.


Wakaf adalah ibadah sebagaimana juga zakat. Namun pada zakat ada nisab dan haulnya. Wakaf sifatnya kerelaan dari pemilik harta yang akan diwakafkan. Namun yang menjadi pro kontra di masyarakat luas adalah sikap rezim yang cukup represif terhadap umat muslim terutama kepada para pengemban dakwahnya dan juga terhadap syariat yang hanya dipilih-pilih sesuai maunya penguasa. Tetapi disisi lain masih mengharapkan dana-dana umat muslim baik secara kerelaan seperti dana-dana haji maupun sampai pada kebijakan yang dipaksakan seperti dana zakat dan wakaf. Serta ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah terkait pengelolaan uangnya.

Banyaknya kasus-kasus korupsi terhadap dana-dana yang cukup besar nilainya yang hingga kini tidak jelas kasusnya seperti kasus korupsi Asuransi Jiwasraya, Asabri, hingga dana untuk penanganan covid-19 saja ikut dikorupsi. Presiden Jokowi mengungkapkan pemanfaatan wakaf yang tak hanya sebatas bertujuan ibadah, tetapi juga sosial dan ekonomi. Harapannya bisa memberi dampak pada pengurangan angka kemiskinan dan ketimpangan sosial dimasyarakat. (Kompas.com, 30 Januari 2021).

Didalam Islam tugas meriayah atau mengurusi rakyat adalah tugas negara mencakup semua kebutuhan pokok masyarakat. Mulai dari sektor sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Bahkan semua bisa didapatkan oleh rakyat secara gratis atau cuma-cuma. Tidak harus mengeluarkan biaya. Berbeda sekali dengan sistem kapitalisme yang sedang mencengkram hampir disemua belahan dunia ini termasuk di negeri ini. Sistem ini luar biasa zalim terhadap rakyat. Alih-alih diriayah, rakyat disuruh mengurusi diri sendiri bahkan masih pula dikenakan berbagai macam pajak yang cukup menyulitkan kehidupan. Terhadap umat Islam juga tak kalah zalimnya, terhadap ulamanya dipersekusi dan dikriminalisasi pun terhadap ajaran Islam yang kaffah dimonsterisasi. Umatnya didorong mengeluarkan dananya untuk menutupi borok kelemahan sistem kapitalisme yang sudah nyata-nyata gagal menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Jauh berbeda dengan sistem Islam yang sesungguhnya sangat mampu mengurusi rakyat tanpa menzalimi. Bahkan semua bisa didapatkan secara gratis karena memang sumber pendapatan daulah Islam berasal dari hasil-hasil sumber daya alam yang dikelola secara profesional dan amanah, harta ghanimah, jizyah, khumus, fa’i, kharaj sehingga dapat mensejahterakan rakyat secara adil dan merata. Pajak pun diambil ketika kas daulah ( baitul mal) dalam keadaan kosong dan hanya diberlakukan terhadap orang-orang yang berharta saja. Kesejahteraan ini pun dapat dirasakan bukan hanya pada kaum muslimin saja tetapi non muslim yang berada dalam naungan sistem Islam ini akan ikut merasakannya juga. Itulah Islam yang akan selalu menjadi Rahmatan lil’alamin.


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)
Wallahu’alam bishowab