Oleh : Sikin Maria
Ibu Rumah Tangga

Sungguh miris melihat kondisi umat Islam saat ini. Jika di belahan dunia lain, umat Islam diserang secara fisik, maka di negeri ini umat Islam diserang oleh pemikiran yang semakin menjauhkan umat dari hakikat Islam yang benar.

Belum usai polemik tentang berbusana berdasarkan agama dan penempatan guru non muslim di madrasah, muncul gerakan nasional wakaf uang. Gerakan nasional wakaf uang diluncurkan senin, 25 januari 2021 pemerintah berharap gerakan ini mampu mengawali transformasi pelaksanaan wakaf yang lebih luas dan modern. Sehingga tujuan wakaf tidak lagi sebatas ibadah, melainkan dikembangkan untuk tujuan sosial ekonomi. Harapannya, langkah ini akan memberikan dampak signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial masyarakat (merdeka.com, 04/02/2021).

Pengelolaan wakaf nasional dinilai pemerintah berkontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sri Mulyani menyebut wakaf tunai berbasis sukuk sudah diterbitkan sejak 2018. Namun jumlahnya belum besar karena hanya investor institusi, sehingga pemerintah memperluas instrumen tersebut dengan melibatkan instrumen individu. (Republika.co.id, 24/10/2020)

Pandemi yang berkepanjangan telah berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi. Saat ini pertumbuhan ekonomi sudah minus 3 dari yang sebelumnya minus 5 (kemenkeu.go.id, 15/11/2020). Kondisi ini sangat berat dirasakan dalam kehidupan ekonomi. Maka stimulus dibutuhkan agar roda ekonomi terus berputar. Stimulus tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit, sedangkan APBN saat ini mengalami defisit. Oleh karena itu, untuk menutupi defisit, negara mengeluarkan surat utang. Salah satunya dengan menerbitkan sukuk wakaf.

Wakaf dipilih karena potensinya sangat besar. Bahkan CAF (Charities Aid Foundation) menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan. Wakaf tunai ini tidak langsung masuk ke dalam kas negara. Seorang wakif akan menyerahkan wakaf tunainya ke sebuah lembaga wakaf. Lalu lembaga wakaflah yang membeli sukuk yang diterbitkan oleh kementrian keuangan. Untuk menutupi defisit APBN, negara berutang pada lembaga wakaf.

Dari sini, tampak kesalahan pola pikir yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah. Pola pikir yang mencampuradukan antara peran individu dan peran negara. Hal ini tidak lepas dari akidah yang melandasinya, yakni sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan).

Aturan agama diambil sekehendak hati, mengikuti hawa nafsu. Syariat dipandang seperti hidangan prasmanan. Syariat yang disuka itulah yang diambil, syariat yang tak disukai dicampakan. Manfaat menjadi asas pengambilan keputusan.

Wakaf, Pembangunan dan Kesejahteraan

Islam adalah agama sempurna, karena berasal dari Allah yang Maha Sempurna. Begitu juga dalam persoalan wakaf ini. Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau sekelompok orang (badan hukum) yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya, demi kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.

Universitas Al Azhar Kairo Mesir merupakan salah satu contoh wakaf di bidang pendidikan. Manfaatnya masih bisa dirasakan hingga sekarang. Di zaman Khilafah Utsmaniyah, ada juga wakaf lahan pertanian. Itulah fakta sejarah pelaksanaan wakaf di zaman kekhilafahan Islam. Orang kaya fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) memberikan hartanya untuk kemaslahatan umat. Hal ini dilakukan semata-mata karena dorongan keimanan, kesadaran ruhiyah. Bukan karena dorongan negara. Khilafah tidak akan meminta atau mengumpulkan harta wakaf individu masyarakat. Karena wakaf merupakan ranah individu bukan negara.

Untuk mensejahterakan masyarakat, Islam memiliki tiga pilar pembangunan ekonomi yang dilaksanakan oleh negara.

Pertama, kegiatan ekonomi hanya pada sektor riil barang dan jasa. Ekonomi Islam tidak bertumpu pada sektor non riil karena selain haram secara syara’, kegiatan ekonomi sektor non riil bisa menjadi pemicu krisis keuangan. Agar kegiatan ekonomi berjalan baik di tengah-tengah masyarakat, syara’ mensyaratkan kegiatan ekonomi hanya bertumpu pada pertukaran barang dan jasa secara riil. Sukuk sendiri merupakan salah satu instrumen sektor non riil.

Kedua, negara memperhatikan kebutuhan masing-masing individu, orang per orang. Bukan dihitung dari pendapatan keseluruhan masyarakat dibagi jumlah penduduk, kemudian diambil rata rata. Karena jika hal ini dilakukan, belum ada kepastian setiap orang sudah terpenuhi kebutuhannya.


Ada enam kebutuhan dasar yang pemenuhannya harus diperhatikan dan dijamin oleh negara. Tiga kebutuhan yang pemenuhannya harus dijamin per individu yaitu sandang, pangan dan papan. Tiga kebutuhan yang pemenuhannya dijamin secara kolektif yaitu pendidikan, kesehatan dan keamanan.

Jika sumber daya alam dikelola dengan baik sesuai syariat Islam, hal ini sangat cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia. Bahkan mekanisme untuk mendapatkan pemasukan dari pengelolaan sumber daya alam lebih sederhana dan potensinya lebih besar dibandingkan dana wakaf. Sayangnya, sumber daya alam negeri muslim saat ini dikuasai oleh swasta bahkan asing. Sehingga pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam sangat kecil.

Ketiga, pemerataan distribusi kekayaan menjadi tanggung jawab negara. Kaya dan miskin akan selalu ada di dunia ini. Namun dalam khilafah, jurang antara si kaya dan si miskin tidak akan seterjal saat ini. Karena peluang orang kaya dan miskin setara dalam hal mengembangkan hartanya. Negara juga akan membantu orang miskin agar mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan menjamin pemenuhan kebutuhan tersier. Negara sangat berperan dalam pemerataan distribusi kekayaan ditengah-tengah masyarakat.

Pembiayaan pembangunan dalam sistem Islam tidak berasal dari harta individu, sebagaimana yang direncanakan pemerintah sekarang dengan menggalakkan wakaf tunai individu. Pembiayaan diambil dari harta kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Di mana keduanya dikelola oleh negara. Hasilnya dikembalikan pada masyarakat. Pengelolaannya amanah dan bertanggung jawab. Maka tak dapat dipungkiri, kesejahteraan dalam negara Islam bisa terwujud.

Kembali pada pangkuan Islam secara kafah adalah pilihan terbaik saat ini. Islam memberikan solusi yang tuntas pada setiap persoalan hidup manusia.

Wallahu’alam bishawwab.